Senin, 15 Maret 2010
Bunda
Relung lengang
Hadirkan Bunda dalam ingatan
Memagutkan sepi, menghantarkan rindu
Rindu dalam nadi-nadi yang ngilu
Bunda
Dalam rentang jarak dan waktu
Aku tak mampu menemanimu
Menyusuri senja
Manapaktilasi masa lalu kita
Bunda
Renta mulai beranjak senyap
Kepak sayap terasa berat
Mengiringi asa yang tersisa
Masihkah ada waktu untukku?
Semoga…!
Bogor, 9 Maret 2010
Minggu, 01 Februari 2009
Kau Katakan Kita Saudara
Kau Katakan Kita Saudara
Kau katakan kita saudara
Kau katakan kita satu tubuh
Kalau kau luka, akupun luka
Kalau aku luka, seharusnya kaupun luka
Kini
Aku Tercabik-cabik
Diamputasi tanpa anastesi
Kau katakan kita saudara
Kau lihatkah
Anakku lari dengan dada menganga
Tujuh belas peluru bersarang di tubuhnya
Kau katakan kita saudara
Bahkan pintumupun tak kau buka
Sepertinya semua ini sandiwara belaka
Kau tentram menikmatinya di layar kaca
Kau katakan kita saudara
Namun …
Di manakah satu tubuh itu kini berada?
Menjadi "Single Parent"
Menjadi Single Parent
Pesawat Garuda yang kutumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju bandara King Abdul Azis, Jedah. Gemuruh suaranya tak mampu menandingi gemuruh haru di hatiku. Aku yang hina ini akhirnya bisa menjadi tamu Allah, mengunjungi Baitullah.
***
Tiga puluh tahun lalu, aku hanya seorang gadis penjual kerupuk yang berdagang keliling kampung. Keuntungan yang kudapat kuberikan kepada orang tuaku untuk membantu belanja sehari-hari. Saat berusia dua puluh dua tahun, aku menikah dengan pemuda sekampung. Sebagaimana lazimnya di Minangkabau, seorang laki-laki dianggap belum sempurna kedewasaannya apabila belum merantau, maka calon suamiku saat itu merantau di Lampung.
Setelah menikah di tahun 1980, suamiku langsung membawaku ke propinsi paling selatan di Pulau Sumatera itu. Usaha suamiku adalah berjualan martabak. Walaupun berjualan dengan gerobak, namun martabak suamiku sangat laris. Secara ekonomi kami tidak kekurangan. Kebahagiaan kami semakin lengkap dengan lahirnya dua putri kami pada 1981 dan 1982.
Penghujung 1982, saat putri keduaku berumur 8 bulan, cobaan itu datang. Suamiku sakit panas dan menurut dokter ia kena thypus. Allah memang berbuat sekehendakNya. Hanya dua hari dirawat di rumah sakit, suamiku berpulang ke rahmatullah. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Duniaku terasa gelap, bagaikan melewati lorong panjang tanpa ujung. Lengang dan hampa. Hanya dua tahun saja Allah memberiku kesempatan menjalani kebahagiaan hidup berumah tangga. Hatiku menjerit.
“Allah! Seandainya aku tidak yakin dengan rahman dan rahimMu, Rasanya tidak sanggup aku meneruskan kehidupan ini. Aku gamang menatap masa depanku dan anak-anakku.”
Kupandangi wajah polos putriku; terngiang kembali pesan terakhir suamiku, saat-saat mendekati sakaratul maut.
“Dik, aku mimpi bertemu ibu, beliau menjemputku. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Sepeninggalku kalau adik mau menikah lagi, menikahlah, aku ikhlas. Tapi satu pesanku, tolong sekolahkan anak-anak kita.”
Suara suamiku terdengar lemah, namun tegar. Waktu itu, aku tidak ingin mempercayai apa yang diucapkannya. Suamiku selama ini sangat sehat, sakitnya juga baru dua hari.
“Uda jangan bicara begitu, Da! Uda akan sembuh dan kita akan bersama-sama membesarkan dan menyekolahkan anak-anak kita sampai ke perguruan tinggi, melebihi kita orang tuanya. Cita-cita kita begitu
Aku berusaha tersenyum. Kuciumi tangannya. Kuusap airmata yang meleleh di pipinya. Mataku kabur oleh cairan bening yang berusaha kutahan.
“Dik, bila saatnya sudah tiba, takkan mampu kita melawan,” ucapnya lirih.
Dia meraih tanganku kebibirnya. Gerakannya mulai lemah dan tangannya terasa sangat dingin. Air mukanya berubah semakin pucat, sepertinya aliran darahnya pun semakin berkurang. Aku menggigil luar biasa. Seperti inikah bila sang penjemput maut mulai mendekat? Mungkinkah Malaikat Izrail saat ini sudah berada di ruangan ini, menyaksikan saat-saat terakhirku bersama suamiku?
Kucium pipinya yang sudah seperti es berkali-kali. Bibirnya menyunggingkan senyum. Seiring dengan kalimat “Laa ilaaha illallah” dari bibirnya, matanya pun menutup.
“Innalillahi wainna ilaihi raajiuun,” Tangisanku pecah di sisi ranjang, begitu pilu. Aku masih tidak percaya. Benarkah dia telah meninggalkanku? Meninggalkanku bersama anak-anakku yang masih kecil-kecil, yang aku yakin mereka belum akan mampu merekam wajah bapaknya di benaknya. Begitu singkatkah kebersamaanku bersamanya? Hanya 2 tahun 3 bulan!
***
Karena tidak memiliki sanak-famili di Lampung, empat bulan setelah suamiku meninggal, aku pindah ke
Di Bogor inilah, aku mulai menata hati. Tidak sedikit yang sangsi pada tekadku untuk memulai usaha. Bahkan, seorang paman menyarankan aku untuk pulang saja ke Bukittinggi.
“Sebaiknya kamu pulang ke kampung. Lihat kondisimu, anak-anakmu masih sangat kecil. Kalau kamu memaksakan diri untuk berdagang di sini, nanti semuanya kocar-kacir. Usahamu gagal dan anakmu tak terurus Jangan sampai semuanya jadi sia-sia. Kalau kamu pulang, sawah kita di kampung ada. Kamu bisa menggarapnya. Sementara anak-anakmu bisa dibantu orangtuamu untuk mengasuhnya.”
Aku menghela napas, terasa sesak. Tak terasa butiran panas menetes dari mataku.
“Terima kasih Mamak[1] sudah memperhatikan dan mengkhawatirkanku. Itu merupakan penghargaan yang besar bagiku. Tapi tekadku sudah bulat untuk berusaha di
“Yah, Mamak tidak akan memaksamu kalau memang itu tekadmu,” kata pamanku akhirnya.
“Tapi satu lagi saran Mamak untuk kamu pikirkan. Kamu masih sangat muda, baru 24 tahun. Mamak dengar banyak laki-laki yang bersedia menjadi suamimu. Kalau ada yang menurutmu cocok, mungkin ada baiknya kamu menikah lagi.”
Aku tercenung. Wajah suamiku kembali terbayang. Wajah yang begitu ikhlas. Ahh, sampai saat ini aku merasa cintaku hanyalah buat suamiku. Walaupun dia ikhlas aku menikah lagi sepeninggalnya, rasanya aku tidak memiliki cinta lagi buat laki-laki lain. Cukuplah dia satu–satunya laki-laki yang kucintai di dunia. Mudah-mudahan Allah mengizinkanku untuk melanjutkan cinta itu di akhirat kelak.
“Sampai saat ini aku belum memikirkan untuk menikah lagi, Mak! Biarlah nanti waktu yang menentukan,” ujarku menutup pembicaraan.
Yah, saat ini memang pikiranku hanyalah bagaimana aku mampu menyekolahkan anak-anakku seperti pesan suamiku. Untuk anak-anakkulah aku akan berjuang. Aku harus kuat! Aku tidak boleh kalah dan menyerah. ***
Pada bulan pertama di
Aku mulai mengkalkulasi jumlah modal yang kubutuhkan serta dana yang saat ini kumiliki. Beruntung aku karena saat suamiku masih hidup kami sangat rajin menabung. Dengan menjual perhiasan yang kumiliki ditambah dengan tabungan yang ada, akhirnya aku bisa mengontrak sebuah toko. Untuk isi toko aku harus memutar otak bagaimana caranya mendapatkan barang dengan kondisi keuanganku yang sudah nyaris habis. Akhirnya aku mendatangi para grosir sepatu. Dengan susah payah aku berusaha meyakinkan mereka agar mau menitipkan barangnya di tokoku. Kegigihanku pun membuahkan hasil. Beberapa grosir bersedia menitipkan produk sepatu dan sandalnya di tokoku dengan perjanjian pembayaran sesudahnya. Sebagian di antara mereka mungkin bersimpati juga dengan kondisi yang kualami.
Setiap ke pasar dan kemana pun aku pergi, anak bungsuku selalu kubawa. Tidak dengan maksud untuk mengeksploitasi anakku yang saat ini yatim, tapi selalu saja aku tidak mampu menahan air mata di saat ada yang bertanya tentang kondisi kami. Kerinduanku pada anak sulungku juga seringkali tak dapat kubendung. Aku hanya menguatkan hati dalam sujud panjangku. Ibuku mungkin benar, bila kedua anakku ada di
“Biarlah Sas bersama Ibu di kampung, dia sudah agak besar. Kalau Yanti mungkin memang lebih baik tetap bersamamu. Sayang kalau ASInya kita hentikan.”
“Tapi Ibu dan Bapak,
“Tidak apa-apa. Ibu sudah terbiasa mengasuh. Kalian tujuh bersaudara dari kecil Ibu asuh. Sekarang ibu malah merasa sepi, di rumah hanya berdua dengan bapakmu. Kalau kamu harus mengasuh dua anak yang masih kecil-kecil ini sekaligus, ibu khawatir nanti malah kamu tidak bisa berdagang.” Ibuku menguatkan hatiku.
“Kalau kamu sudah bertekad untuk berusaha di sini, berusahalah optimal. Doa Ibu dan Bapak akan selalu menyertaimu.” Ayahku menambahkan.
“Terima kasih Ibu dan Bapak,” hanya itu yang terucap dari bibirku.
Aku ikhlaskan anakku dibawa ibuku ke kampung. Aku yakin di bawah pengasuhan ibu, sulungku bisa tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan keagamaan yang baik. Karena Ibu serta masyarakat di kampungku sebagaimana masyarakat Minang umumnya, cukup ketat dalam pendidikan Agama bagi anak-anaknya.
***
Tak mudah memang, menjadi ibu sekaligus ayah dan tulang punggung ekonomi keluarga. Ditambah dengan tanggung jawab pengasuhan anak yang harus aku jalankan. Pasar menjadi rumah kedua bagi putriku. Aku tahu, pasar memang bukan tempat terbaik bagi pendidikan anak-anak, tapi aku tak punya pilihan lain. Bagi sebagian perempuan, antara karir dan rumah tangga mungkin adalah sebuah pilihan. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Keduanya bagiku adalah keharusan. Sebuah keniscayaan yang mutlak harus aku jalani.
Lingkungan pergaulan di pasar kadang memberikan efek negatif bagi anak-anak, seperti kebiasaan jajan yang susah dikendalikan. Untuk itu aku memang harus bersikap tegas. Tidak semua yang diinginkan anak harus dituruti. Anak-anak juga harus belajar bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan pasti bisa diraih. Walaupun tidak gampang memberikan pengertian, namun dengan kekonsistenan dan keteladanan, Alhamdulillah anakku bisa mengerti.
Tapi aku melihat ada segi positifnya anakku selalu kuajak ke pasar. Pergaulan yang intens dengan para pelaku pasar yang umumnya berjiwa entepreneur, menumbuhkan jiwa wirausaha bagi anak-anakku. Sampai akhirnya kelak, setelah lulus perguruan tinggi, anak-anakku pun tertarik dan ikut terjun dalam wirausaha.
Walaupun anakku besar di pasar, tapi pendidikannya sangat aku perhatikan. Sepulang sekolah umum pagi hari, sorenya dia juga ikut mengaji di TPA. Karena rumah kontrakanku dekat dengan pasar, anak-anakku bisa bolak-balik dari rumah ke pasar. Aku sangat senang ketika anak sulungku kelas tiga SD, ibuku mau kuajak ke
Usaha dagang yang kujalani cukup maju. Dan seperti kebiasaanku bersama suamiku dulu, aku selalu menabung. Di masa-masa sulit, tabungan itu akan sangat bermanfaat. Ujian Allah memang tidak bisa kita ramalkan. Sampai pada suatu pagi pada pertengahan tahun 1985, kakakku yang juga berdagang di pasar terburu-buru kerumahku.
“Cini, Pasar Anyar kebakaran, kamu sudah tahu?”
“Apa? Kebakaran? Kapan? Bagaimana dengan toko kita?” tanyaku panik.
“Aku belum tahu, aku baru mau ke
Kami buru-buru berangkat ke pasar. Sampai di
“Astaghfirullahal’azhim, astaghfirullahal’azhim!!” berulang-ulang aku istighfar.
Kakak-kakakku membimbingku. Kami saling menguatkan hati. Di tengah cobaan ini, kebersamaan sangat menolong kami untuk kuat dan mampu berpikir lebih jernih, ditambah dengan semangat yang dipompakan orang tua kami.
“Kalian pergi merantau dari kampung dulu juga tidak membawa apa-apa. Kalian bisa berhasil. Kenapa kalian sekarang tidak memulai lagi dari awal!”
Kami harus bangkit! Buatku cobaan ini tidak seberat yang kualami saat ditinggal suamiku dulu. Dengan kebersamaan akhirnya kami semua bisa bangkit lagi.
Cobaan kebakaran berulang lagi kami alami. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, Pasar Anyar kembali terbakar. Toko-toko kami pun kembali ludes.
Aku jadi terbiasa dengan cobaan. Cobaan demi cobaan yang kualami ini membuatku semakin yakin akan kekuasaan Allah. Aku berserah diri kepada Allah. Manusia memang bukan siapa-siapa. Hanya keberanian untuk bangkit dan berjuanglah yang membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Tidak ada satu pun yang menjadi milik kita di dunia ini. Rasa syukurku pun tak berhingga, anak-anakku akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Dan akhirnya di tahun 2005 aku mampu menunaikan ibadah haji.
Seperti yang diceritakan Uni Cini
Irna Syahrial,
Schizophrenia
Schizophrenia
Malam itu disaat makan malam, istriku bercerita tentang Toni, tetangga kami yang kembali mengamuk.
“Sudah
“Lalu, siapa yang menenangkannya?” tanyaku.
“Pak Rudi menghubungi dokter klinik di depan. Dia juga menelpon ke rumah istri muda Pak Kus. Pak Kus langsung pulang kesini. Waktu ayahnya datang, Toni sudah agak tenang. Duduk di pojok ruangan, menatap kosong kepada ayahnya. Dokter Arif yang datang belakangan menyarankan agar Toni dirawat di rumah sakit. Mungkin karena sudah kelelahan, dia diam saja waktu disuntik penenang oleh Dokter Arif”.
“Tono dan Yanti bagaimana reaksinya?” tanya saya tentang dua anak Pak Kus yang lain.
“Yanti lelap saja di kamar, tidak merespon sama sekali apa yang terjadi. Tono sedikit bisa diajak komunikasi. Tapi ya gitu, nggak nyambung. Kasihan melihat kondisi keluarga Pak Kusnadi sekarang.”
***
Sehabis sholat subuh keesokan harinya, Pak Kus menahanku sebelum keluar masjid. Air mukanya terlihat kusut. Rupanya malam tadi beliau tidak pulang ke rumah istrinya.
“Bagaimana kondisi Toni, Pak Kus?” tanyaku pelan.
“Sudah lumayan tenang, Dik. Tadi malam jam satu saya pulang dari rumah sakit,” ujar pak Kus
Pak Kus menarik nafas berat. Keriput di wajahnya semakin kentara. Wajah itu sangat berbeda dengan kondisi
“Hadiah dari rekan bisnis Bapak”, cerita istrinya ke tetangga.
Seiring dengan ekonominya yang meroket,
“Rasanya sangat berat dan lelah menerima cobaan ini, Dik Ridwan”, suara berat Pak Kusnadi memutuskan lamunanku.
Beliau tercenung lama.
“Tiga anak menjadi gila, setelah ibunya juga mengalami hal yang sama dan kemudian meninggal,” sangat kering dan perih suara itu, nyaris aku tidak mengenalinya. Pak Kus menutupkan kedua matanya, butiran bening mengalir dari sudutnya. Tenggorokankupun tercekat.
***
“Ternyata istri saya mempunyai bakat schizophrenia, Dik Ridwan,” begitu dulu penjelasan Pak Kus ketika aku menemani Pak Kus mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Kondisinya lemah setelah dua bulan mengurung diri di kamar dan sangat sulit diajak berkomunikasi. Makanan yang diberikanpun nyaris tidak disentuhnya.
“Dokter menyebutnya sebagai gejala negatif schizophrenia. Dia tidak mengamuk dan merusak lingkungan, tetapi mengurung diri, melamun dan menjadi a-sosial”. Pak kus menjelaskan kepadaku tentang penjelasan dokter.
“Tapi sebenarnya penyakit itu bisa disembuhkan
“Menurut dokter, walaupun penyakit ini dipicu dari faktor genetik, namun jika lingkungan sosial mendukung seseorang menjadi pribadi yang terbuka maka sebenarnya faktor genetika ini bisa diabaikan. Bahkan John Forbes Nash Jr., peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1994, adalah seorang penderita schizophrenia.”
Waktu itu Pak Kus Masih optimis dengan kesembuhan istrinya.
Sebulan setelah dirawat di rumah sakit, istri Pak Kus diizinkan pulang. Karena Pak Kus masih bolak-balik ke
Suatu pagi, istriku buru-buru masuk rumah setelah belanja di warung.
“Mas, istri Pak Kus dilarikan ke rumah sakit,” ujar istriku yang terlihat pucat.
“Kenapa, sakit lagi?” tanyaku
“Nggak, Mas,” suaranya pelan nyaris berbisik. “Kata orang-orang, beliau berusaha gantung diri.”
“Astaghfirullahal’azhim, kapan?” kataku kaget.
“Tadi pagi waktu Pak Kus mau berangkat shalat subuh ke mesjid, dia melihat istrinya sudah tergantung di dahan pohon mangga.” Istriku bercerita dengan nafas sesak.
“Meninggal?”
“Nggak, cuma pingsan. Mungkin cepat ketahuan”
Untuk kedua kalinya istri Pak Kus kembali dirawat di rumah sakit. Kali ini Pak Kus terlihat sangat terpukul. Kejadian itu terjadi di tahun keempat beliau bertugas di
Kondisi istri Pak Kus ternyata tidak begitu parah. Cuma dirawat 2 hari di rumah sakit dokter sudah mengizinkan pulang. Namun dokter menekankan agar istri Pak Kus selalu diawasi. Karena dokter melihat indikasi istri Pak Kus memiliki halusinasi yang membahayakan, dalam khayalnya dia merasa ada seseorang yang sedemikian kuat memaksanya untuk bunuh diri dan dia tidak mampu melawannya. Seseorang dalam halusinasinya itu menerornya terus-menerus. Kondisi halusinasi ini akan berakibat lebih fatal apabila seseorang mengalami kebuntuan pikiran. Untuk itu dokter memperingatkan Pak Kus berhati-hati agar tidak ada hal-hal yang memberatkan fikiran istrinya.
“Barangkali ini semua akibat kesalahan saya, Dik Ridwan. Kesalahan saya telah mengakibatkan penderitaan bagi keluarga saya,” ucapan Pak Kus terdengar letih, waktu itu aku berkunjung ke rumahnya setelah istrinya pulang dari rumah sakit. Aku diam mendengarkan, tidak berani bertanya. Rasanya persoalan yang tengah dihadapi Pak Kus saat ini sangat sensitif.
“Saya terjebak, Dik Ridwan,” Pak Kus memulai ceritanya. “Lama saya merenung. Mungkin tidak bijaksana juga saya menyalahkan keadaan atas kekliruan saya selama ini,” Pak Kus menarik nafas panjang, kemudian beliau terdiam lama sekali. Mungkin bukan hal yang mudah bagi beliau untuk memulai ceritanya.
Aku memberanikan diri untuk bertanya,
“Mohon maaf, Pak. Apakah permasalahan yang tengah Bapak hadapi saat ini terkait dengan kedudukan bapak sebagai kakanwil,” aku berusaha hati-hati memilih kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya.
“Yah, Dik Ridwan mungkin sudah mengira. Saya merasa tetangga-tetangga juga sudah mulai tahu dengan permasalahan yang tengah saya hadapi dalam pekerjaan. Kondisi ini juga mungkin yang menjadi pemicu utama istri saya melakukan bunuh diri,” suara Pak Kus terdengar berat. Dari kamar terdengar suara erangan. Pak Kus menoleh ke kamar. Ternyata istri Pak Kus minta minum yang segera diambilkan oleh adiknya.
“ Apakah permasalahannya sedemikian serius, Pak?” tanyaku lebih lanjut.
Pak Kus tidak menjawab. Beliau berdiri lalu masuk ke kamarnya dan mengambil sepucuk
“Saya terlibat kasus illegal loging, Dik Ridwan,” ucapan Pak Kus terdengar serak tapi jelas.
Walaupun aku telah lama menduga bahwa beliau sudah terlibat korupsi dari tahun-tahun awal beliau bertugas di Kalimantan, namun pengakuannya yang terus terang tak urung membuatku terperangah.
“Sebenarnya hati kecil saya sudah tidak tenang dari awal saya menjalani jabatan yang sarat dengan dengan kasus suap dan korupsi ini. Namun karena iman saya lemah, saya selalu berusaha untuk mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan adalah karena keterpaksaan. Godaan harta itu memang berat, Dik. Saya tidak berani mencegah pembalakan liar yang berlangsung gila-gilaan hanya karena saya sudah menerima upeti dari para pengusaha itu. Mereka memanjakan keluarga saya dengan mobil, berlian, deposito dan segala macam bentuk hadiah. Seandainya saya mengumpulkan gaji saya selama 200 tahunpun, nggak akan mampu saya memperolehnya. Harta haram itu telah menumpulkan nurani saya dan juga menjerumuskan keluarga saya” Pak Kus terlihat geram, mungkin terhadap dirinya sendiri.
“Sudah beberapa kali saya diperiksa oleh Komisi Pemberantas Korupsi di
“Sudah tiga bulan kasus ini ditangani KPK. Kerugian negara hampir mencapai 200 milyar. Saya bisa terselamatkan dari hukuman dunia. Namun sungguh saya takut dengan hukum Allah, Dik Ridwan!” suara Pak Kus bergetar. Air matanya mengalir. Kulihat penyesalan yang mendalam di wajahnya.
“Pak Kus, setiap manusia pernah melakukan kekeliruan. Namun sepanjang kita menyesali kesalahan kita dan berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi serta bersikap konsisten dengan taubat kita, Insyaallah Allah akan mengampuni kesalahan kita.” ujarku mencoba memberi dukungan pada Pak Kus.
Pak Kus menyeka air matanya.
“Yah, penjara dunia memang bisa dihindari, tergantung bagaimana pintarnya kita berdalih. Tapi Allah memang Maha Adil. Dia memberi saya hukuman dunia dalam bentuk lain yang tidak kalah beratnya dengan hukuman penjara. Istri menderita schizophrenia yang nyaris mati karena bunuh diri. Yah, harta haram itu telah mencari jalannya sendiri untuk keluar.” Aku terdiam mendengarkan Pak Kus. Ungkapan yang dilontarkannya membuatku merinding.
“Seminggu yang lalu sebelum pulang ke sini, saya mendapat khabar bahwa saya akan dimutasi, dikembalikan ke
***
Setelah percobaan bunuh dirinya yang gagal, istri Pak Kus semakin mengurung diri. Tidak pernah mau keluar rumah. Bila dibujuk atau dipaksa, dia akan menjerit-jerit mengatakan ada orang yang mengejarnya dan ingin membunuhnya, kemudian dia akan bersembunyi di pojok kamar. Kesehatan fisiknya juga menurun drastis karena setiap hari hampir tidak pernah makan. Bila diberikan makanan, dia menangis tersedu-sedu,
“Ini isinya racun, ada yang ingin membunuhku. Aku tidak mau mati,” jeritnya menyerakkan makanan tersebut di lantai.
Pak Kus sendiri karena kesibukannya saat dimutasi ke
Istri Pak Kus mengalami komplikasi ginjal dan radang lambung yang kronis. Kondisinya sudah sangat terlambat. Dokter tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Istri Pak Kus meninggal tepat enam bulan setelah percobaan bunuh diri yang dilakukannya.
***
Kematian istrinya benar-benar menggoncangkan jiwa Pak Kus dan anak-anaknya. Kondisi psikologis anak-anaknya benar-benar merosot. Toni anak tertua, sering marah-marah dan mengamuk tanpa alasan yang jelas. Sementara anak kedua, Yanti, sering terlihat berbicara dan tersenyum-senyum sendiri. Menurut dokter, Yanti memiliki halusinasi yang menyenangkan hatinya. Sedangkan Tono, kondisinya relatif lebih baik walaupun seringkali tidak nyambung bila diajak berbicara. Sementara kuliah mereka semuanya terbengkalai
Gejala yang diperlihatkan anak-anak Pak Kus menurut dokter merupakan gejala awal schizophrenia. Goncangan batin yang mereka rasakan setelah kematian ibunya, ditambah dengan kondisi ekonomi yang jauh berbeda dibandingkan saat ayah mereka menjabat sebagai kakanwil, menjadi penyebab utama munculnya penyakit yang sebelumnya juga diderita ibu mereka.
“Schizophrenia merupakan penyakit otak yang mampu merusak dan menghancurkan emosi. Kelainanan otak yang kronis dan membuatnya tidak berfungsi ini telah dikenal orang di sepanjang sejarah. Penyakit ini diyakini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada dopamine yaitu salah satu sel kimia yang terdapat dalam otak atau neurotransmitter,” dr Fajri, psikologi yang kami kunjungi menerangkan dalam bahasa kedokteran.
“Seberapa besar potensi seseorang dapat mengidap penyakit ini, dok?”tanyaku saat mengantarkan Pak Kus dan anak-anaknya ke rumah sakit.
“Pada anak yang kedua orang tuanya tidak mengidap penyakit ini, kemungkinannya adalah satu persen. Sementara pada anak yang salah satu orang tuanya menderita schizophrenia, kemungkinannya adalah 13 persen. Sedang untuk anak yang kedua orang tuanya mengidap menderita schizophrenia, maka resiko terkena adalah 35 %,” jelas dr Fajri.
“Apakah memungkinkan seseorang penderita bisa sembuh total, dok?’ tanyaku lebih lanjut.
“Obat schizophrenia versi terbaru dapat menyembuhkan gejala negatif dan positif sekaligus. Gejala negatif diperlihatkan dengan kecenderungan melamun dan menarik diri dari lingkungan. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungan, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Selain terapi obat, pasien juga harus dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Keluarga dan kawan merupakan pihak yang sangat berperan dalam membantu pasien pasien bersosialisasi. Terapi yang dilakukan juga harus bersifat holistik, termasuk pendekatan religius. Pasien harus dilatih bersifat sabar dan tawakal dalam menghadapi permasalahan hidup,”penjelasan dokter panjang lebar.
“Kalau untuk halusinasi, bagaimana terapinya, dok ?” tanyaku lagi.
“Untuk menghindarkan pasien dari halusinasi, penderita harus terus-menerus diajak berkomunikasi dengan realitas, sehingga mampu mengabaikan halusinasinya tersebut.” Dokter menutup pembicaraannya.
***
“Selama ini saya tidak memprioritaskan pendidikan agama bagi keluarga dan anak-anak saya, Dik Ridwan. Hal inilah yang membuat istri dan anak-anak saya tidak memiliki daya tahan dalam menghadapi tekanan hidup,” kata Pak Kus sepulang kami dari rumah sakit.
“Yah benar pak, walaupun factor genetik berperan, tapi ternyata ketidakmampuan seseorang menyikapi persoalan hidupnya dengan baik juga menjadi pemicu utama munculnya penyakit ini. Apalagi bila mereka memiliki bakat secara genetik..”
“Memang. Selain ibu mereka yang menderita schizophrenia, dari pihak keluarga saya juga saya melihat ada potensi untuk menderita penyakit ini, karena salah satu dari sepupu saya juga menderita schizophrenia,” ujar Pak menarik nafas panjang.
***
Ketiga anak Pak Kus menjalani terapi secara rutin dengan dr Fajri. Perkembangan Yanti dan Tono cukup baik. Namun Toni masih sering mengamuk. Pak Kus sendiri mulai terlihat depresi dengan keadaan yang dihadapinya. Beliau sering termenung baik di rumah maupun di kantor. Melihat kondisi itu teman-temannya di kantor menyarankan agar Pak Kus menikah lagi agar punya teman untuk berbagi. Keluarga Pak Kus juga menyarankan hal yang sama.
“Mungkin ada baiknya Pak Kus menikah lagi,” ujar pak Hadi rekan sekantornya hati-hati. “Dengan begitu Pak Kus punya teman untuk berbagi menghadapi rumitnya persoalan yang Pak Kus hadapi sehari-hari,” lanjutnya dengan suara pelan, takut menyinggung perasaan Pak Kus.
Pak Kus terdiam. Matanya terlihat redup.
“Yah, keluarga saya juga menyarankan hal itu, pak,” ucapnya pelan. “Namun saya merasa tidak gampang untuk mendapatkan seseorang yang bisa mengerti keadaan saya dan anak-anak,” lanjutnya mengemukakan alasannya.
‘Saya rasa ada yang bisa mengerti Pak Kus,” lanjut Pak Hadi lagi. “Seingat saya adik istri Pak Kus yang dulu merawat ibu bukankah suaminya sudah meninggal? Lagi pula saya lihat adik istri Pak Kus itu begitu telaten merawat ibu. Anak-anak Pak Kus juga saya rasa akan bisa menerimanya,” sambung Pak Hadi lagi.
Pak Kus tersentak dengan ucapan Pak Hadi. Dia ingat adik istrinya. Secercah harapan menyelusup lembut di hatinya.
“Terima kasih, Pak Hadi. Saya akan membicarakannya dengan keluarga dan anak-anak”
***
Keluarga Pak Kus dan juga keluarga almarhumah istrinya ternyata sangat menyetujui keinginan Pak Kus tersebut. Anak-anak Pak Kus juga bisa memahami apa yang disampaikan ayahnya. Kecuali Toni, dia bersikap acuh tak acuh. Toni dulu memang paling dekat dengan ibunya.
Akhirnya pernikahan Pak Kus dengan adik almarhumah istrinya dilangsungkan. Ternyata malam setelah acara pernikahan dilangsungkan, Toni mengamuk lagi. Dia melempar-lemparkan perabotan rumah, pakaian dan perlengkapan bibinya yang sekaligus ibu tirinya itu. Untuk menenangkan Toni, malam itu Pak Kus menitipkan istrinya ke rumahku. Baru keesokan harinya Pak Kus mencarikan kontrakan untuk istrinya.
Semenjak pernikahan kedua ayahnya, Toni benar-benar menjadi tak terkendali. Yang lebih mengkhawatirkan Pak Kus, dia mulai mengganggu dan merusak sekelilingnya. Melempari rumah tetangga dan marah-marah pada siapa saja yang lewat di depan rumahnya..
***
“Saya benar-benar bingung dan serba salah dengan kondisi ini, Dik Ridwan. Bibinya sebenarnya sangat menyayangi Toni. Bahkan waktu berumur 5 tahun Toni sempat tinggal di Jawa bersama bibinya, karena bibinya tidak memiliki anak. Tapi sekarang justru Toni yang sangat tidak bisa menerima pernikahan ini,” akhirnya Pak Kus berbicara setelah terdiam lama sekali saat menahanku selepas shalat subuh pagi ini.
“Barangkali bukan hal yang gampang bagi Toni untuk memerima kenyataan ini, pak. Antara sadar dan tidaknya tentunya kenangan Toni terhadap ibunya sangat mempengaruhi Toni dalam bersikap. Namun dengan perawatan intensif di rumah sakit serta dengan bantuan dokter, mudah-mudahan Toni bisa menerima keadaan ini. Apalagi dengan kasih sayang yang tulus dari Pak Kus dan bibinya, saya yakin Toni dan adik-adiknya bisa disembuhkan,” aku mencoba memompakan keyakinan pada diri Pak Kus. “Disamping itu pendekatan diri terhadap Allah akan sangat membantu kita keluar dari permasalahn yang kita hadapi,” tambahku.
“Terima kasih, dik. Saya akan mencoba untuk ikhlas menerima cobaan ini. Semoga keikhlasan ini bisa menghapuskan dosa-dosa dan kekeliruan saya di waktu lampau. Doakanlah saya bisa tabah dan konsisten dengan taubat saya ini, Dik Ridwan!” pinta Pak Kus.
“Insya Allah, Pak!”
***
jiwa menggugat
Jiwa menggugat
Pak Burhan gelisah sekali sesore ini. Di ruang tamunya yang sederhana dia duduk tercenung. Pandangannya menerawang kosong. Sekelebat ingatan kembali melintas.
“Jangan lupa Pak Burhan, besok jam 5 pagi sudah ada di sekolah. Jadi sebelum pengawas dari sekolah lain datang, pekerjaaan kita sudah beres. “ pesan kepala sekolah tadi siang kembali terngiang sesaat sebelum dia meninggalkan ruang majlis guru.
Sudah 10 tahun Pak Burhan menjalani profesinya sebagai guru matematika. Walaupun masih berstatus sebagai guru bantu di sebuah SMA swasta di pinggiran
“Kok kelihatan bingung sih ,Pak?” Tanya istrinya yang berjalan dari dapur dan menyodorkan teh panas. Pak burhan menerimanya.
“Airnya diminum dulu,” tambahnya dengan suara lembut. Pak Burhan meneguk minumannya, segar melewati kerongkongan.
“
“Emang sih Buk, saya bingung buat besok. Tadi kepala sekolah mengingatkan aku lagi, semua guru matematika kelas 3 harus datang jam 5 pagi , sebelum pengawas dari sekolah lain datang.” Pak Burhan mulai menerangkan.
“

