Minggu, 01 Februari 2009

jiwa menggugat

Jiwa menggugat

Pak Burhan gelisah sekali sesore ini. Di ruang tamunya yang sederhana dia duduk tercenung. Pandangannya menerawang kosong. Sekelebat ingatan kembali melintas.

“Jangan lupa Pak Burhan, besok jam 5 pagi sudah ada di sekolah. Jadi sebelum pengawas dari sekolah lain datang, pekerjaaan kita sudah beres. “ pesan kepala sekolah tadi siang kembali terngiang sesaat sebelum dia meninggalkan ruang majlis guru.

Sudah 10 tahun Pak Burhan menjalani profesinya sebagai guru matematika. Walaupun masih berstatus sebagai guru bantu di sebuah SMA swasta di pinggiran kota Bogor, namun semangatnya untuk mencerdaskan murid-muridnya tetap tidak kendur. Namun sore ini batinnya bimbang.

“Kok kelihatan bingung sih ,Pak?” Tanya istrinya yang berjalan dari dapur dan menyodorkan teh panas. Pak burhan menerimanya.

“Airnya diminum dulu,” tambahnya dengan suara lembut. Pak Burhan meneguk minumannya, segar melewati kerongkongan.

Ada apa sih,Pak. Kok kelihatannya ada masalah yang membebani?” tanya istrinya lagi setelah Pak Burhan lebih tenang.

“Emang sih Buk, saya bingung buat besok. Tadi kepala sekolah mengingatkan aku lagi, semua guru matematika kelas 3 harus datang jam 5 pagi , sebelum pengawas dari sekolah lain datang.” Pak Burhan mulai menerangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar