Schizophrenia
Malam itu disaat makan malam, istriku bercerita tentang Toni, tetangga kami yang kembali mengamuk.
“Sudah lima orang yang memeganginnya tetap saja tidak kuat, mas! Dia terus berteriak, berontak dan menendang. Pas terlepas, dia langsung menerjang lemari dapur. Piring dan gelas pecah berserakan. Untung dia pakai sepatu. Cuma tetangga-tetangga akhirnya menghindar. Takut kalau dia melemparkan pecahan kaca.”
“Lalu, siapa yang menenangkannya?” tanyaku.
“Pak Rudi menghubungi dokter klinik di depan. Dia juga menelpon ke rumah istri muda Pak Kus. Pak Kus langsung pulang kesini. Waktu ayahnya datang, Toni sudah agak tenang. Duduk di pojok ruangan, menatap kosong kepada ayahnya. Dokter Arif yang datang belakangan menyarankan agar Toni dirawat di rumah sakit. Mungkin karena sudah kelelahan, dia diam saja waktu disuntik penenang oleh Dokter Arif”.
“Tono dan Yanti bagaimana reaksinya?” tanya saya tentang dua anak Pak Kus yang lain.
“Yanti lelap saja di kamar, tidak merespon sama sekali apa yang terjadi. Tono sedikit bisa diajak komunikasi. Tapi ya gitu, nggak nyambung. Kasihan melihat kondisi keluarga Pak Kusnadi sekarang.”
***
Sehabis sholat subuh keesokan harinya, Pak Kus menahanku sebelum keluar masjid. Air mukanya terlihat kusut. Rupanya malam tadi beliau tidak pulang ke rumah istrinya.
“Bagaimana kondisi Toni, Pak Kus?” tanyaku pelan.
“Sudah lumayan tenang, Dik. Tadi malam jam satu saya pulang dari rumah sakit,” ujar pak Kus
Pak Kus menarik nafas berat. Keriput di wajahnya semakin kentara. Wajah itu sangat berbeda dengan kondisi lima tahun yang lalu, saat beliau menjabat sebagai kakanwil sebuah departemen yang terkenal sangat basah di Kalimantan. Walaupun bertugas di Kalimantan, keluarganya masih menetap di Bogor. Baru enam bulan menjabat sebagi kakanwil, sebuah BMW seri terbaru sudah parkir di garasi rumahnya.
“Hadiah dari rekan bisnis Bapak”, cerita istrinya ke tetangga.
Seiring dengan ekonominya yang meroket, gaya hidup keluarganya pun meningkat. Anak-anaknya, Toni yang waktu itu kuliah tingkat satu, Tono serta Yanti yang masih duduk di bangku SMA, masing-masing mendapat jatah satu mobil buat kuliah dan sekolah. Rumah merekapun direnovasi mentereng.
“Rasanya sangat berat dan lelah menerima cobaan ini, Dik Ridwan”, suara berat Pak Kusnadi memutuskan lamunanku.
Beliau tercenung lama.
“Tiga anak menjadi gila, setelah ibunya juga mengalami hal yang sama dan kemudian meninggal,” sangat kering dan perih suara itu, nyaris aku tidak mengenalinya. Pak Kus menutupkan kedua matanya, butiran bening mengalir dari sudutnya. Tenggorokankupun tercekat.
***
“Ternyata istri saya mempunyai bakat schizophrenia, Dik Ridwan,” begitu dulu penjelasan Pak Kus ketika aku menemani Pak Kus mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Kondisinya lemah setelah dua bulan mengurung diri di kamar dan sangat sulit diajak berkomunikasi. Makanan yang diberikanpun nyaris tidak disentuhnya.
“Dokter menyebutnya sebagai gejala negatif schizophrenia. Dia tidak mengamuk dan merusak lingkungan, tetapi mengurung diri, melamun dan menjadi a-sosial”. Pak kus menjelaskan kepadaku tentang penjelasan dokter.
“Tapi sebenarnya penyakit itu bisa disembuhkan kan, Pak?” tanyaku hati-hati.
“Menurut dokter, walaupun penyakit ini dipicu dari faktor genetik, namun jika lingkungan sosial mendukung seseorang menjadi pribadi yang terbuka maka sebenarnya faktor genetika ini bisa diabaikan. Bahkan John Forbes Nash Jr., peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1994, adalah seorang penderita schizophrenia.”
Waktu itu Pak Kus Masih optimis dengan kesembuhan istrinya.
Sebulan setelah dirawat di rumah sakit, istri Pak Kus diizinkan pulang. Karena Pak Kus masih bolak-balik ke Kalimantan, istrinya lebih banyak dirawat oleh adiknya yang datang dari Jawa. Sejak pulang dari rumah sakit, istri Pak Kus terlihat lebih pendiam, namun sudah mau bersosialisasi lagi dengan tetangga. Tapi ternyata kondisi itu tidak berlangsung lama.
Suatu pagi, istriku buru-buru masuk rumah setelah belanja di warung.
“Mas, istri Pak Kus dilarikan ke rumah sakit,” ujar istriku yang terlihat pucat.
“Kenapa, sakit lagi?” tanyaku
“Nggak, Mas,” suaranya pelan nyaris berbisik. “Kata orang-orang, beliau berusaha gantung diri.”
“Astaghfirullahal’azhim, kapan?” kataku kaget.
“Tadi pagi waktu Pak Kus mau berangkat shalat subuh ke mesjid, dia melihat istrinya sudah tergantung di dahan pohon mangga.” Istriku bercerita dengan nafas sesak.
“Meninggal?”
“Nggak, cuma pingsan. Mungkin cepat ketahuan”
Untuk kedua kalinya istri Pak Kus kembali dirawat di rumah sakit. Kali ini Pak Kus terlihat sangat terpukul. Kejadian itu terjadi di tahun keempat beliau bertugas di Kalimantan.
Kondisi istri Pak Kus ternyata tidak begitu parah. Cuma dirawat 2 hari di rumah sakit dokter sudah mengizinkan pulang. Namun dokter menekankan agar istri Pak Kus selalu diawasi. Karena dokter melihat indikasi istri Pak Kus memiliki halusinasi yang membahayakan, dalam khayalnya dia merasa ada seseorang yang sedemikian kuat memaksanya untuk bunuh diri dan dia tidak mampu melawannya. Seseorang dalam halusinasinya itu menerornya terus-menerus. Kondisi halusinasi ini akan berakibat lebih fatal apabila seseorang mengalami kebuntuan pikiran. Untuk itu dokter memperingatkan Pak Kus berhati-hati agar tidak ada hal-hal yang memberatkan fikiran istrinya.
“Barangkali ini semua akibat kesalahan saya, Dik Ridwan. Kesalahan saya telah mengakibatkan penderitaan bagi keluarga saya,” ucapan Pak Kus terdengar letih, waktu itu aku berkunjung ke rumahnya setelah istrinya pulang dari rumah sakit. Aku diam mendengarkan, tidak berani bertanya. Rasanya persoalan yang tengah dihadapi Pak Kus saat ini sangat sensitif.
“Saya terjebak, Dik Ridwan,” Pak Kus memulai ceritanya. “Lama saya merenung. Mungkin tidak bijaksana juga saya menyalahkan keadaan atas kekliruan saya selama ini,” Pak Kus menarik nafas panjang, kemudian beliau terdiam lama sekali. Mungkin bukan hal yang mudah bagi beliau untuk memulai ceritanya.
Aku memberanikan diri untuk bertanya,
“Mohon maaf, Pak. Apakah permasalahan yang tengah Bapak hadapi saat ini terkait dengan kedudukan bapak sebagai kakanwil,” aku berusaha hati-hati memilih kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya.
“Yah, Dik Ridwan mungkin sudah mengira. Saya merasa tetangga-tetangga juga sudah mulai tahu dengan permasalahan yang tengah saya hadapi dalam pekerjaan. Kondisi ini juga mungkin yang menjadi pemicu utama istri saya melakukan bunuh diri,” suara Pak Kus terdengar berat. Dari kamar terdengar suara erangan. Pak Kus menoleh ke kamar. Ternyata istri Pak Kus minta minum yang segera diambilkan oleh adiknya.
“ Apakah permasalahannya sedemikian serius, Pak?” tanyaku lebih lanjut.
Pak Kus tidak menjawab. Beliau berdiri lalu masuk ke kamarnya dan mengambil sepucuk surat. Sekilas aku melihat ada logo lembaga pemberantas korupsi yang terdapat di sampul surat. Aku terpaku waktu Pak Kus menyerahkan surat itu kepadaku dan menyuruhku untuk membacanya.
“Saya terlibat kasus illegal loging, Dik Ridwan,” ucapan Pak Kus terdengar serak tapi jelas.
Walaupun aku telah lama menduga bahwa beliau sudah terlibat korupsi dari tahun-tahun awal beliau bertugas di Kalimantan, namun pengakuannya yang terus terang tak urung membuatku terperangah.
“Sebenarnya hati kecil saya sudah tidak tenang dari awal saya menjalani jabatan yang sarat dengan dengan kasus suap dan korupsi ini. Namun karena iman saya lemah, saya selalu berusaha untuk mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan adalah karena keterpaksaan. Godaan harta itu memang berat, Dik. Saya tidak berani mencegah pembalakan liar yang berlangsung gila-gilaan hanya karena saya sudah menerima upeti dari para pengusaha itu. Mereka memanjakan keluarga saya dengan mobil, berlian, deposito dan segala macam bentuk hadiah. Seandainya saya mengumpulkan gaji saya selama 200 tahunpun, nggak akan mampu saya memperolehnya. Harta haram itu telah menumpulkan nurani saya dan juga menjerumuskan keluarga saya” Pak Kus terlihat geram, mungkin terhadap dirinya sendiri.
“Sudah beberapa kali saya diperiksa oleh Komisi Pemberantas Korupsi di sana. Saya masih bersyukur karena status saya cuma saksi, tidak tersangka. Namun entahlah, apa status saya ini masih pantas disyukuri atau tidak,” Pak Kus menarik nafas panjang.
“Sudah tiga bulan kasus ini ditangani KPK. Kerugian negara hampir mencapai 200 milyar. Saya bisa terselamatkan dari hukuman dunia. Namun sungguh saya takut dengan hukum Allah, Dik Ridwan!” suara Pak Kus bergetar. Air matanya mengalir. Kulihat penyesalan yang mendalam di wajahnya.
“Pak Kus, setiap manusia pernah melakukan kekeliruan. Namun sepanjang kita menyesali kesalahan kita dan berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi serta bersikap konsisten dengan taubat kita, Insyaallah Allah akan mengampuni kesalahan kita.” ujarku mencoba memberi dukungan pada Pak Kus.
Pak Kus menyeka air matanya.
“Yah, penjara dunia memang bisa dihindari, tergantung bagaimana pintarnya kita berdalih. Tapi Allah memang Maha Adil. Dia memberi saya hukuman dunia dalam bentuk lain yang tidak kalah beratnya dengan hukuman penjara. Istri menderita schizophrenia yang nyaris mati karena bunuh diri. Yah, harta haram itu telah mencari jalannya sendiri untuk keluar.” Aku terdiam mendengarkan Pak Kus. Ungkapan yang dilontarkannya membuatku merinding.
“Seminggu yang lalu sebelum pulang ke sini, saya mendapat khabar bahwa saya akan dimutasi, dikembalikan ke Bogor. Semua kondisi yang tengah saya hadapi ini membuat istri saya sangat tertekan dan memicu munculnya penyakit yang dideritanya sekarang,” Pak Kus menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan-pelan, seperti mencoba untuk menghembuskan semua permasalahan yang tengah merundungnya.
***
Setelah percobaan bunuh dirinya yang gagal, istri Pak Kus semakin mengurung diri. Tidak pernah mau keluar rumah. Bila dibujuk atau dipaksa, dia akan menjerit-jerit mengatakan ada orang yang mengejarnya dan ingin membunuhnya, kemudian dia akan bersembunyi di pojok kamar. Kesehatan fisiknya juga menurun drastis karena setiap hari hampir tidak pernah makan. Bila diberikan makanan, dia menangis tersedu-sedu,
“Ini isinya racun, ada yang ingin membunuhku. Aku tidak mau mati,” jeritnya menyerakkan makanan tersebut di lantai.
Pak Kus sendiri karena kesibukannya saat dimutasi ke Bogor serta tekanan batin yang dialaminya menyusul terungkapnya kasus illegal loging yang melibatkan dirinya, perhatiannya terhadap kondisi istrinya menjadi sangat kurang. Beliau terhenyak siang itu selagi di kantor menerima telpon dari rumah bahwa istrinya pingsan, karena memang sudah tiga hari tidak makan sama sekali dan juga tidak mau minum.
Istri Pak Kus mengalami komplikasi ginjal dan radang lambung yang kronis. Kondisinya sudah sangat terlambat. Dokter tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Istri Pak Kus meninggal tepat enam bulan setelah percobaan bunuh diri yang dilakukannya.
***
Kematian istrinya benar-benar menggoncangkan jiwa Pak Kus dan anak-anaknya. Kondisi psikologis anak-anaknya benar-benar merosot. Toni anak tertua, sering marah-marah dan mengamuk tanpa alasan yang jelas. Sementara anak kedua, Yanti, sering terlihat berbicara dan tersenyum-senyum sendiri. Menurut dokter, Yanti memiliki halusinasi yang menyenangkan hatinya. Sedangkan Tono, kondisinya relatif lebih baik walaupun seringkali tidak nyambung bila diajak berbicara. Sementara kuliah mereka semuanya terbengkalai
Gejala yang diperlihatkan anak-anak Pak Kus menurut dokter merupakan gejala awal schizophrenia. Goncangan batin yang mereka rasakan setelah kematian ibunya, ditambah dengan kondisi ekonomi yang jauh berbeda dibandingkan saat ayah mereka menjabat sebagai kakanwil, menjadi penyebab utama munculnya penyakit yang sebelumnya juga diderita ibu mereka.
“Schizophrenia merupakan penyakit otak yang mampu merusak dan menghancurkan emosi. Kelainanan otak yang kronis dan membuatnya tidak berfungsi ini telah dikenal orang di sepanjang sejarah. Penyakit ini diyakini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada dopamine yaitu salah satu sel kimia yang terdapat dalam otak atau neurotransmitter,” dr Fajri, psikologi yang kami kunjungi menerangkan dalam bahasa kedokteran.
“Seberapa besar potensi seseorang dapat mengidap penyakit ini, dok?”tanyaku saat mengantarkan Pak Kus dan anak-anaknya ke rumah sakit.
“Pada anak yang kedua orang tuanya tidak mengidap penyakit ini, kemungkinannya adalah satu persen. Sementara pada anak yang salah satu orang tuanya menderita schizophrenia, kemungkinannya adalah 13 persen. Sedang untuk anak yang kedua orang tuanya mengidap menderita schizophrenia, maka resiko terkena adalah 35 %,” jelas dr Fajri.
“Apakah memungkinkan seseorang penderita bisa sembuh total, dok?’ tanyaku lebih lanjut.
“Obat schizophrenia versi terbaru dapat menyembuhkan gejala negatif dan positif sekaligus. Gejala negatif diperlihatkan dengan kecenderungan melamun dan menarik diri dari lingkungan. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungan, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Selain terapi obat, pasien juga harus dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Keluarga dan kawan merupakan pihak yang sangat berperan dalam membantu pasien pasien bersosialisasi. Terapi yang dilakukan juga harus bersifat holistik, termasuk pendekatan religius. Pasien harus dilatih bersifat sabar dan tawakal dalam menghadapi permasalahan hidup,”penjelasan dokter panjang lebar.
“Kalau untuk halusinasi, bagaimana terapinya, dok ?” tanyaku lagi.
“Untuk menghindarkan pasien dari halusinasi, penderita harus terus-menerus diajak berkomunikasi dengan realitas, sehingga mampu mengabaikan halusinasinya tersebut.” Dokter menutup pembicaraannya.
***
“Selama ini saya tidak memprioritaskan pendidikan agama bagi keluarga dan anak-anak saya, Dik Ridwan. Hal inilah yang membuat istri dan anak-anak saya tidak memiliki daya tahan dalam menghadapi tekanan hidup,” kata Pak Kus sepulang kami dari rumah sakit.
“Yah benar pak, walaupun factor genetik berperan, tapi ternyata ketidakmampuan seseorang menyikapi persoalan hidupnya dengan baik juga menjadi pemicu utama munculnya penyakit ini. Apalagi bila mereka memiliki bakat secara genetik..”
“Memang. Selain ibu mereka yang menderita schizophrenia, dari pihak keluarga saya juga saya melihat ada potensi untuk menderita penyakit ini, karena salah satu dari sepupu saya juga menderita schizophrenia,” ujar Pak menarik nafas panjang.
***
Ketiga anak Pak Kus menjalani terapi secara rutin dengan dr Fajri. Perkembangan Yanti dan Tono cukup baik. Namun Toni masih sering mengamuk. Pak Kus sendiri mulai terlihat depresi dengan keadaan yang dihadapinya. Beliau sering termenung baik di rumah maupun di kantor. Melihat kondisi itu teman-temannya di kantor menyarankan agar Pak Kus menikah lagi agar punya teman untuk berbagi. Keluarga Pak Kus juga menyarankan hal yang sama.
“Mungkin ada baiknya Pak Kus menikah lagi,” ujar pak Hadi rekan sekantornya hati-hati. “Dengan begitu Pak Kus punya teman untuk berbagi menghadapi rumitnya persoalan yang Pak Kus hadapi sehari-hari,” lanjutnya dengan suara pelan, takut menyinggung perasaan Pak Kus.
Pak Kus terdiam. Matanya terlihat redup.
“Yah, keluarga saya juga menyarankan hal itu, pak,” ucapnya pelan. “Namun saya merasa tidak gampang untuk mendapatkan seseorang yang bisa mengerti keadaan saya dan anak-anak,” lanjutnya mengemukakan alasannya.
‘Saya rasa ada yang bisa mengerti Pak Kus,” lanjut Pak Hadi lagi. “Seingat saya adik istri Pak Kus yang dulu merawat ibu bukankah suaminya sudah meninggal? Lagi pula saya lihat adik istri Pak Kus itu begitu telaten merawat ibu. Anak-anak Pak Kus juga saya rasa akan bisa menerimanya,” sambung Pak Hadi lagi.
Pak Kus tersentak dengan ucapan Pak Hadi. Dia ingat adik istrinya. Secercah harapan menyelusup lembut di hatinya.
“Terima kasih, Pak Hadi. Saya akan membicarakannya dengan keluarga dan anak-anak”
***
Keluarga Pak Kus dan juga keluarga almarhumah istrinya ternyata sangat menyetujui keinginan Pak Kus tersebut. Anak-anak Pak Kus juga bisa memahami apa yang disampaikan ayahnya. Kecuali Toni, dia bersikap acuh tak acuh. Toni dulu memang paling dekat dengan ibunya.
Akhirnya pernikahan Pak Kus dengan adik almarhumah istrinya dilangsungkan. Ternyata malam setelah acara pernikahan dilangsungkan, Toni mengamuk lagi. Dia melempar-lemparkan perabotan rumah, pakaian dan perlengkapan bibinya yang sekaligus ibu tirinya itu. Untuk menenangkan Toni, malam itu Pak Kus menitipkan istrinya ke rumahku. Baru keesokan harinya Pak Kus mencarikan kontrakan untuk istrinya.
Semenjak pernikahan kedua ayahnya, Toni benar-benar menjadi tak terkendali. Yang lebih mengkhawatirkan Pak Kus, dia mulai mengganggu dan merusak sekelilingnya. Melempari rumah tetangga dan marah-marah pada siapa saja yang lewat di depan rumahnya..
***
“Saya benar-benar bingung dan serba salah dengan kondisi ini, Dik Ridwan. Bibinya sebenarnya sangat menyayangi Toni. Bahkan waktu berumur 5 tahun Toni sempat tinggal di Jawa bersama bibinya, karena bibinya tidak memiliki anak. Tapi sekarang justru Toni yang sangat tidak bisa menerima pernikahan ini,” akhirnya Pak Kus berbicara setelah terdiam lama sekali saat menahanku selepas shalat subuh pagi ini.
“Barangkali bukan hal yang gampang bagi Toni untuk memerima kenyataan ini, pak. Antara sadar dan tidaknya tentunya kenangan Toni terhadap ibunya sangat mempengaruhi Toni dalam bersikap. Namun dengan perawatan intensif di rumah sakit serta dengan bantuan dokter, mudah-mudahan Toni bisa menerima keadaan ini. Apalagi dengan kasih sayang yang tulus dari Pak Kus dan bibinya, saya yakin Toni dan adik-adiknya bisa disembuhkan,” aku mencoba memompakan keyakinan pada diri Pak Kus. “Disamping itu pendekatan diri terhadap Allah akan sangat membantu kita keluar dari permasalahn yang kita hadapi,” tambahku.
“Terima kasih, dik. Saya akan mencoba untuk ikhlas menerima cobaan ini. Semoga keikhlasan ini bisa menghapuskan dosa-dosa dan kekeliruan saya di waktu lampau. Doakanlah saya bisa tabah dan konsisten dengan taubat saya ini, Dik Ridwan!” pinta Pak Kus.
“Insya Allah, Pak!”
***