Minggu, 01 Februari 2009

Menjadi "Single Parent"

Menjadi Single Parent

Pesawat Garuda yang kutumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju bandara King Abdul Azis, Jedah. Gemuruh suaranya tak mampu menandingi gemuruh haru di hatiku. Aku yang hina ini akhirnya bisa menjadi tamu Allah, mengunjungi Baitullah.

***

Tiga puluh tahun lalu, aku hanya seorang gadis penjual kerupuk yang berdagang keliling kampung. Keuntungan yang kudapat kuberikan kepada orang tuaku untuk membantu belanja sehari-hari. Saat berusia dua puluh dua tahun, aku menikah dengan pemuda sekampung. Sebagaimana lazimnya di Minangkabau, seorang laki-laki dianggap belum sempurna kedewasaannya apabila belum merantau, maka calon suamiku saat itu merantau di Lampung.

Setelah menikah di tahun 1980, suamiku langsung membawaku ke propinsi paling selatan di Pulau Sumatera itu. Usaha suamiku adalah berjualan martabak. Walaupun berjualan dengan gerobak, namun martabak suamiku sangat laris. Secara ekonomi kami tidak kekurangan. Kebahagiaan kami semakin lengkap dengan lahirnya dua putri kami pada 1981 dan 1982.

Penghujung 1982, saat putri keduaku berumur 8 bulan, cobaan itu datang. Suamiku sakit panas dan menurut dokter ia kena thypus. Allah memang berbuat sekehendakNya. Hanya dua hari dirawat di rumah sakit, suamiku berpulang ke rahmatullah. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Duniaku terasa gelap, bagaikan melewati lorong panjang tanpa ujung. Lengang dan hampa. Hanya dua tahun saja Allah memberiku kesempatan menjalani kebahagiaan hidup berumah tangga. Hatiku menjerit.

“Allah! Seandainya aku tidak yakin dengan rahman dan rahimMu, Rasanya tidak sanggup aku meneruskan kehidupan ini. Aku gamang menatap masa depanku dan anak-anakku.”

Kupandangi wajah polos putriku; terngiang kembali pesan terakhir suamiku, saat-saat mendekati sakaratul maut.

“Dik, aku mimpi bertemu ibu, beliau menjemputku. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi. Sepeninggalku kalau adik mau menikah lagi, menikahlah, aku ikhlas. Tapi satu pesanku, tolong sekolahkan anak-anak kita.”

Suara suamiku terdengar lemah, namun tegar. Waktu itu, aku tidak ingin mempercayai apa yang diucapkannya. Suamiku selama ini sangat sehat, sakitnya juga baru dua hari.

“Uda jangan bicara begitu, Da! Uda akan sembuh dan kita akan bersama-sama membesarkan dan menyekolahkan anak-anak kita sampai ke perguruan tinggi, melebihi kita orang tuanya. Cita-cita kita begitu kan?” ujarku tersendat.

Aku berusaha tersenyum. Kuciumi tangannya. Kuusap airmata yang meleleh di pipinya. Mataku kabur oleh cairan bening yang berusaha kutahan.

“Dik, bila saatnya sudah tiba, takkan mampu kita melawan,” ucapnya lirih.

Dia meraih tanganku kebibirnya. Gerakannya mulai lemah dan tangannya terasa sangat dingin. Air mukanya berubah semakin pucat, sepertinya aliran darahnya pun semakin berkurang. Aku menggigil luar biasa. Seperti inikah bila sang penjemput maut mulai mendekat? Mungkinkah Malaikat Izrail saat ini sudah berada di ruangan ini, menyaksikan saat-saat terakhirku bersama suamiku?

Kucium pipinya yang sudah seperti es berkali-kali. Bibirnya menyunggingkan senyum. Seiring dengan kalimat “Laa ilaaha illallah” dari bibirnya, matanya pun menutup.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiuun,” Tangisanku pecah di sisi ranjang, begitu pilu. Aku masih tidak percaya. Benarkah dia telah meninggalkanku? Meninggalkanku bersama anak-anakku yang masih kecil-kecil, yang aku yakin mereka belum akan mampu merekam wajah bapaknya di benaknya. Begitu singkatkah kebersamaanku bersamanya? Hanya 2 tahun 3 bulan!

***

Karena tidak memiliki sanak-famili di Lampung, empat bulan setelah suamiku meninggal, aku pindah ke Bogor bersama anak bungsuku. Sementara sulungku dibawa neneknya ke Bukittinggi. Aku bertekad untuk memulai usaha di kota hujan ini mengikuti kakak-kakakku yang sudah lebih dulu memulai usaha di sana. Selain itu, adik bungsuku juga tengah menuntut ilmu di sebuah Institut Negeri di Bogor. Adik bungsuku itu membiayai kuliahnya sendiri dengan berjualan sepatu di kaki lima Pasar Anyar.

Di Bogor inilah, aku mulai menata hati. Tidak sedikit yang sangsi pada tekadku untuk memulai usaha. Bahkan, seorang paman menyarankan aku untuk pulang saja ke Bukittinggi.

“Sebaiknya kamu pulang ke kampung. Lihat kondisimu, anak-anakmu masih sangat kecil. Kalau kamu memaksakan diri untuk berdagang di sini, nanti semuanya kocar-kacir. Usahamu gagal dan anakmu tak terurus Jangan sampai semuanya jadi sia-sia. Kalau kamu pulang, sawah kita di kampung ada. Kamu bisa menggarapnya. Sementara anak-anakmu bisa dibantu orangtuamu untuk mengasuhnya.”

Aku menghela napas, terasa sesak. Tak terasa butiran panas menetes dari mataku.

“Terima kasih Mamak[1] sudah memperhatikan dan mengkhawatirkanku. Itu merupakan penghargaan yang besar bagiku. Tapi tekadku sudah bulat untuk berusaha di Bogor, Mak. Kalau dengan bertani di kampung rasanya tak mungkin aku akan mampu menyekolahkan anak-anakku seperti apa yang diamanatkan suamiku.” Airmataku benar-benar luruh.

“Yah, Mamak tidak akan memaksamu kalau memang itu tekadmu,” kata pamanku akhirnya.

“Tapi satu lagi saran Mamak untuk kamu pikirkan. Kamu masih sangat muda, baru 24 tahun. Mamak dengar banyak laki-laki yang bersedia menjadi suamimu. Kalau ada yang menurutmu cocok, mungkin ada baiknya kamu menikah lagi.”

Aku tercenung. Wajah suamiku kembali terbayang. Wajah yang begitu ikhlas. Ahh, sampai saat ini aku merasa cintaku hanyalah buat suamiku. Walaupun dia ikhlas aku menikah lagi sepeninggalnya, rasanya aku tidak memiliki cinta lagi buat laki-laki lain. Cukuplah dia satu–satunya laki-laki yang kucintai di dunia. Mudah-mudahan Allah mengizinkanku untuk melanjutkan cinta itu di akhirat kelak.

“Sampai saat ini aku belum memikirkan untuk menikah lagi, Mak! Biarlah nanti waktu yang menentukan,” ujarku menutup pembicaraan.

Yah, saat ini memang pikiranku hanyalah bagaimana aku mampu menyekolahkan anak-anakku seperti pesan suamiku. Untuk anak-anakkulah aku akan berjuang. Aku harus kuat! Aku tidak boleh kalah dan menyerah. ***

Pada bulan pertama di Bogor, aku tinggal satu rumah bersama dengan kakak-kakak dan adikku. Tiap adikku kuliah, aku ke pasar membantu menunggui dagangannya, sambil mempelajari kondisi pasar. Walaupun pendidikan formalku cuma SD, tapi naluri dagangku sudah terasah sejak kecil. Kuamati di Bogor industri sepatu ternyata berkembang sangat bagus.

Aku mulai mengkalkulasi jumlah modal yang kubutuhkan serta dana yang saat ini kumiliki. Beruntung aku karena saat suamiku masih hidup kami sangat rajin menabung. Dengan menjual perhiasan yang kumiliki ditambah dengan tabungan yang ada, akhirnya aku bisa mengontrak sebuah toko. Untuk isi toko aku harus memutar otak bagaimana caranya mendapatkan barang dengan kondisi keuanganku yang sudah nyaris habis. Akhirnya aku mendatangi para grosir sepatu. Dengan susah payah aku berusaha meyakinkan mereka agar mau menitipkan barangnya di tokoku. Kegigihanku pun membuahkan hasil. Beberapa grosir bersedia menitipkan produk sepatu dan sandalnya di tokoku dengan perjanjian pembayaran sesudahnya. Sebagian di antara mereka mungkin bersimpati juga dengan kondisi yang kualami.

Setiap ke pasar dan kemana pun aku pergi, anak bungsuku selalu kubawa. Tidak dengan maksud untuk mengeksploitasi anakku yang saat ini yatim, tapi selalu saja aku tidak mampu menahan air mata di saat ada yang bertanya tentang kondisi kami. Kerinduanku pada anak sulungku juga seringkali tak dapat kubendung. Aku hanya menguatkan hati dalam sujud panjangku. Ibuku mungkin benar, bila kedua anakku ada di Bogor bersamaku, mungkin akan mustahil bagiku bisa berdagang dan mengurus dua balita sekaligus.

“Biarlah Sas bersama Ibu di kampung, dia sudah agak besar. Kalau Yanti mungkin memang lebih baik tetap bersamamu. Sayang kalau ASInya kita hentikan.”

“Tapi Ibu dan Bapak, kan, sudah tua. Aku malah menjadi beban Ibu dan Bapak dengan keadaanku sekarang ini,” kataku dengan berat hati.

“Tidak apa-apa. Ibu sudah terbiasa mengasuh. Kalian tujuh bersaudara dari kecil Ibu asuh. Sekarang ibu malah merasa sepi, di rumah hanya berdua dengan bapakmu. Kalau kamu harus mengasuh dua anak yang masih kecil-kecil ini sekaligus, ibu khawatir nanti malah kamu tidak bisa berdagang.” Ibuku menguatkan hatiku.

“Kalau kamu sudah bertekad untuk berusaha di sini, berusahalah optimal. Doa Ibu dan Bapak akan selalu menyertaimu.” Ayahku menambahkan.

“Terima kasih Ibu dan Bapak,” hanya itu yang terucap dari bibirku.

Aku ikhlaskan anakku dibawa ibuku ke kampung. Aku yakin di bawah pengasuhan ibu, sulungku bisa tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan keagamaan yang baik. Karena Ibu serta masyarakat di kampungku sebagaimana masyarakat Minang umumnya, cukup ketat dalam pendidikan Agama bagi anak-anaknya.

***

Tak mudah memang, menjadi ibu sekaligus ayah dan tulang punggung ekonomi keluarga. Ditambah dengan tanggung jawab pengasuhan anak yang harus aku jalankan. Pasar menjadi rumah kedua bagi putriku. Aku tahu, pasar memang bukan tempat terbaik bagi pendidikan anak-anak, tapi aku tak punya pilihan lain. Bagi sebagian perempuan, antara karir dan rumah tangga mungkin adalah sebuah pilihan. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Keduanya bagiku adalah keharusan. Sebuah keniscayaan yang mutlak harus aku jalani.

Lingkungan pergaulan di pasar kadang memberikan efek negatif bagi anak-anak, seperti kebiasaan jajan yang susah dikendalikan. Untuk itu aku memang harus bersikap tegas. Tidak semua yang diinginkan anak harus dituruti. Anak-anak juga harus belajar bahwa dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan pasti bisa diraih. Walaupun tidak gampang memberikan pengertian, namun dengan kekonsistenan dan keteladanan, Alhamdulillah anakku bisa mengerti.

Tapi aku melihat ada segi positifnya anakku selalu kuajak ke pasar. Pergaulan yang intens dengan para pelaku pasar yang umumnya berjiwa entepreneur, menumbuhkan jiwa wirausaha bagi anak-anakku. Sampai akhirnya kelak, setelah lulus perguruan tinggi, anak-anakku pun tertarik dan ikut terjun dalam wirausaha.

Walaupun anakku besar di pasar, tapi pendidikannya sangat aku perhatikan. Sepulang sekolah umum pagi hari, sorenya dia juga ikut mengaji di TPA. Karena rumah kontrakanku dekat dengan pasar, anak-anakku bisa bolak-balik dari rumah ke pasar. Aku sangat senang ketika anak sulungku kelas tiga SD, ibuku mau kuajak ke Bogor tinggal bersamaku. Aku kembali bisa berkumpul dengan anak pertamaku. Kehadiran ibu serta anak sulungku kembali memberikan motivasi bagiku untuk berusaha lebih giat.

Usaha dagang yang kujalani cukup maju. Dan seperti kebiasaanku bersama suamiku dulu, aku selalu menabung. Di masa-masa sulit, tabungan itu akan sangat bermanfaat. Ujian Allah memang tidak bisa kita ramalkan. Sampai pada suatu pagi pada pertengahan tahun 1985, kakakku yang juga berdagang di pasar terburu-buru kerumahku.

“Cini, Pasar Anyar kebakaran, kamu sudah tahu?”

“Apa? Kebakaran? Kapan? Bagaimana dengan toko kita?” tanyaku panik.

“Aku belum tahu, aku baru mau ke sana,” jawab kakakku cepat.

Kami buru-buru berangkat ke pasar. Sampai di sana ternyata tokoku dan juga toko kakak-kakakku, serta ratusan toko-toko yang lain telah berubah menjadi tumpukan arang. Aku terduduk lemas!

“Astaghfirullahal’azhim, astaghfirullahal’azhim!!” berulang-ulang aku istighfar.

Kakak-kakakku membimbingku. Kami saling menguatkan hati. Di tengah cobaan ini, kebersamaan sangat menolong kami untuk kuat dan mampu berpikir lebih jernih, ditambah dengan semangat yang dipompakan orang tua kami.

“Kalian pergi merantau dari kampung dulu juga tidak membawa apa-apa. Kalian bisa berhasil. Kenapa kalian sekarang tidak memulai lagi dari awal!”

Kami harus bangkit! Buatku cobaan ini tidak seberat yang kualami saat ditinggal suamiku dulu. Dengan kebersamaan akhirnya kami semua bisa bangkit lagi.

Cobaan kebakaran berulang lagi kami alami. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, Pasar Anyar kembali terbakar. Toko-toko kami pun kembali ludes.

Aku jadi terbiasa dengan cobaan. Cobaan demi cobaan yang kualami ini membuatku semakin yakin akan kekuasaan Allah. Aku berserah diri kepada Allah. Manusia memang bukan siapa-siapa. Hanya keberanian untuk bangkit dan berjuanglah yang membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Tidak ada satu pun yang menjadi milik kita di dunia ini. Rasa syukurku pun tak berhingga, anak-anakku akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Dan akhirnya di tahun 2005 aku mampu menunaikan ibadah haji.

Seperti yang diceritakan Uni Cini

Irna Syahrial, Bogor, Juni 2008



[1] Mamak = panggilan untuk Paman, saudara laki-laki Ibu, di Minangkabau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar